Berlokasi di Jalan Lautze No. 87–89, Karang Anyar, Jakarta Pusat, Masjid Lautze menjadi salah satu destinasi religi yang memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti masjid pada umumnya yang identik dengan kubah dan menara, Masjid Lautze justru mengusung arsitektur bernuansa Tionghoa dengan dominasi warna merah, kuning, dan hijau. Dari tampilan luarnya, bangunan empat lantai ini sekilas menyerupai klenteng, mencerminkan akulturasi budaya yang kuat di kawasan Jakarta Pusat. Konsep arsitektur tersebut dipilih dengan tujuan mulia, yakni menciptakan suasana yang ramah dan inklusif bagi masyarakat keturunan Tionghoa yang ingin mengenal ajaran Islam tanpa rasa canggung. Hal ini sekaligus menegaskan peran Masjid Lautze sebagai ruang dialog lintas budaya dan kepercayaan.
Sejarah Masjid Lautze tidak terlepas dari sosok Haji Abdul Karim Oei Tjeng Hien, seorang pejuang kemerdekaan dan tokoh nasional keturunan Tionghoa, sekaligus sahabat dekat Presiden Soekarno. Setelah wafatnya beliau pada tahun 1988, semangat perjuangan dan dakwahnya dilanjutkan oleh putranya, Ali Karim, bersama para sahabat melalui pendirian Yayasan Haji Karim Oei.
Masjid Lautze resmi berdiri pada tahun 1991 dengan memanfaatkan sebuah bangunan ruko. Seiring meningkatnya aktivitas ibadah dan pembinaan umat, masjid ini kemudian diperluas dan pada tahun 1994 diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia ke-3, B. J. Habibie, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Memasuki bagian dalam masjid, pengunjung akan menemukan perpaduan harmonis antara kaligrafi Arab dan aksara Mandarin yang menghiasi dinding-dinding bangunan. Tata ruang masjid dirancang secara fungsional, dengan lantai satu dan dua digunakan sebagai area ibadah bagi jamaah laki-laki dan perempuan, sementara lantai tiga dan empat dimanfaatkan sebagai kantor sekretariat serta aula pertemuan.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Lautze juga berperan sebagai pusat pembelajaran dan pembinaan umat. Hingga kini, tercatat lebih dari 2.000 mualaf etnis Tionghoa telah mengucapkan syahadat dan mendapatkan pendampingan keagamaan di masjid ini. Keterbukaan menjadi nilai utama yang dijunjung, di mana Masjid Lautze juga menerima kunjungan nonmuslim yang ingin berdiskusi, belajar, maupun memperluas wawasan tentang Islam.
Keberadaan Masjid Lautze menjadi simbol nyata pembauran, toleransi, dan harmoni antarbudaya di Jakarta Pusat, sekaligus memperkaya khazanah wisata religi dan sejarah di wilayah ini.
Informasi Kunjungan
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung untuk beribadah atau berdiskusi, Masjid Lautze melayani kunjungan pada:
- Hari: Senin – Jumat
- Waktu: 08.00 – 17.00 WIB