Gedung A.A. Maramis terletak di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tepatnya di wilayah bersejarah Weltevreden. Kawasan ini berkembang sebagai pusat pemerintahan baru ketika Batavia lama mulai ditinggalkan, akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat pada abad ke-18. Pembangunan gedung ini dimulai pada 7 Maret 1809 atas perintah Herman Willem Daendels, sebagai bagian dari rencana pemindahan pusat administrasi kolonial ke wilayah selatan Batavia.
Dirancang oleh arsitek J.C. Schultze dengan gaya Empire yang populer di Eropa dan kemudian dikenal sebagai gaya Imperium Hindia, bangunan ini menampilkan fasad megah dengan pilar tinggi, tata ruang simetris, serta langit-langit besar yang mencerminkan wibawa kekuasaan pada masanya. Pembangunan sempat terhenti dan baru diselesaikan pada 1828 oleh Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies, sebagaimana tertulis pada prasasti di pintu gedung: “MDCCCIX Condidit DAENDELS. MDCCCXXVIII Erexit Du BUS” dibangun oleh Daendels pada 1809 dan diselesaikan oleh Du Bus pada 1828.
Awalnya direncanakan sebagai istana gubernur jenderal, bangunan ini justru lebih banyak difungsikan sebagai pusat administrasi pemerintahan, termasuk Departemen Keuangan Hindia Belanda sejak 1836. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini resmi digunakan sebagai kantor Kementerian Keuangan Republik Indonesia sejak awal 1950-an. Pada tahun 2008, namanya berubah menjadi Gedung A.A. Maramis untuk menghormati Alexander Andries Maramis, tokoh penting dalam perumusan sistem keuangan negara pada masa awal kemerdekaan.
Kompleks ini terdiri dari lima bangunan yang saling terhubung, yakni Gedung A, B, C, D, dan E. Gedung B dan D berfungsi sebagai penghubung antarbangunan. Di bagian bawah Gedung C, dahulu terdapat kandang yang mampu menampung ratusan kuda sebagai fasilitas transportasi pejabat kolonial. Sementara itu, di bagian bawah Gedung A terdapat ruang tahanan berdinding tebal yang digunakan untuk pelaku kriminal, termasuk satu ruang khusus bagi pelaku kejahatan tingkat tinggi.
Memasuki Gedung C, pengunjung akan menaiki tangga kayu jati yang kokoh dan merasakan suasana layaknya berada di dalam istana megah. Di lantai atas terdapat Ruang Majapahit dan Ruang Sriwijaya yang kini digunakan untuk berbagai kegiatan resmi. Di lantai tiga Gedung C terdapat ruangan besar yang dahulu dipenuhi lukisan, sementara di Gedung A lantai tiga terpajang foto A.A. Maramis sebagai bentuk penghormatan terhadap perannya dalam sejarah keuangan Indonesia.
Menjelang era modern, Gedung A.A. Maramis menjalani pemugaran besar pada 2019–2022 dengan menerapkan prinsip konservasi cagar budaya secara ketat. Proses ini meliputi penguatan struktur serta pelestarian elemen arsitektur tanpa menghilangkan karakter aslinya, sehingga kemegahan bangunan yang telah berusia lebih dari dua abad tetap terjaga. Pasca renovasi, gedung ini difungsikan sebagai ruang pertemuan dan jamuan kenegaraan, serta pusat kegiatan seni dan budaya yang menghadirkan berbagai pameran dan aktivitas kreatif.
Saat ini Gedung A.A. Maramis belum dibuka untuk kunjungan umum. Masyarakat yang ingin berkunjung dapat mengikuti tur yang diselenggarakan oleh komunitas atau program tertentu yang bekerja sama dengan pengelola.
Mari jelajahi Gedung A.A. Maramis dan rasakan langsung atmosfer istana kolonial yang masih berdiri megah di jantung Kota Jakarta Pusat hingga hari ini.